Jumat, 03 April 2009

DRAMATURGI

Dipresentasikan oleh Rizki Atina

SEJARAH


1945:Tahun dimana, Kenneth Duva Burke(May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan (Fox, 2002).Dramatisme memperlihatkan bahasa sebagai model tindakan simbolik ketimbang model pengetahuan (Burke, 1978). Pandangan Burke adalah bahwa hidup bukan seperti drama, tapi hidup itu sendiri adalah drama. 1959: The Presentation of Self in Everyday Life Tertarik dengan teori dramatisme Burke, Erving Goffman (11 Juni 1922 – 19 November 1982), seorang sosiolog interaksionis dan penulis, memperdalam kajian dramatisme tersebut dan menyempurnakannya dalam bukunya yang kemudian terkenal sebagai salah satu sumbangan terbesar bagi teori ilmu sosial The Presentation of Self in Everyday Life. Dalam buku ini Goffman yang mendalami fenomena interaksi simbolik mengemukakan kajian mendalam mengenai konsep Dramaturgi.

INI BUKAN DRAMATURGI ARISTOTELES


Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan. Meski benar, dramaturgi juga digunakan dalam istilah teater namun term dan karakteristiknya berbeda dengan dramaturgi yang akan kita pelajari. Dramaturgi dari istilah teater dipopulerkan oleh Aristoteles. Sekitar tahun 350 SM, Aristoteles, seorang filosof asal Yunani, menelurkan, Poetics, hasil pemikirannya yang sampai sekarang masih dianggap sebagai buku acuan bagi dunia teater. Dalam Poetics, Aristoteles menjabarkan penelitiannya tentang penampilan/drama-drama berakhir tragedi/tragis ataupun kisah-kisah komedi. Untuk menghasilkan Poetics Aristoteles meneliti hampir seluruh karya penulis Yunani pada masanya. Kisah tragis merupakan obyek penelitian utamanya dan dalam Poetic juga Aristoteles menyanjung Kisah Oedipus Rex, sebagai kisah drama yang paling dapat diperhitungkan. Meskipun Aristoteles mengatakan bahwa drama merupakan bagian dari puisi, namun Aristoteles bekerja secara utuh menganalisa drama secara keseluruhan. Bukan hanya dari segi naskahnya saja tapi juga menganalisa hubungan antara karakter dan akting, dialog, plot dan cerita. Ia memberikan contoh-contoh plot yang baik dan meneliti reaksi drama terhadap penonton. Nilai-nilai yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam maha karyanya ini kemudian dikenal dengan “aristotelian drama” atau drama ala aristoteles, dimana deus ex machina[1] adalah suatu kelemahan dan dimana sebuah akting harus tersusun secara efisien. Banyak konsep kunci drama, seperti anagnorisis[2] dan katharsis[3], dibahas dalam Poetica. Sampai sekarang “aristotelian drama” sangat terlihat aplikasinya pada tayangan-tayangan tv, buku-buku panduan perfilman dan bahkan kursus-kursus singkat perfilman (dramaturgi dasar) biasanya sangat bergantung kepada dasar pemikiran yang dikemukakan oleh Aristoteles.

DRAMATURGI: BENTUK LAIN DARI KOMUNIKASI


Bila Aristoteles mengungkapkan Dramaturgi dalam artian seni. Maka, Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Seperti yang kita ketahui, Goffman memperkenalkan dramaturgi pertama kali dalam kajian sosial psikologis dan sosiologi melalui bukunya, The Presentation of Self In Everyday Life. Buku tersebut menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Bila Aristoteles mengacu kepada teater maka Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, dimana dengan permainan peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu. Hal ini setara dengan yang dikatakan oleh Yenrizal (IAIN Raden Fatah, Palembang), dalam makalahnya “Transformasi Etos Kerja Masyarakat Muslim: Tinjauan Dramaturgis di Masyarakat Pedesaan Sumatera Selatan” pada Annual Conference on Islamic Studies, Bandung, 26 – 30 November 2006: “Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya.”

DRAMATURGIS : KITA SEBENARNYA HIDUP DI ATAS PANGGUNG


Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Contohnya, seorang front liner hotel senantiasa berpakaian rapi menyambut tamu hotel dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang front liner bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya (merokok, dsb). Saat front liner menyambut tamu hotel, merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut tamu hotel dan memberikan kesan baik hotel kepada tamu tersebut. Oleh karenanya, perilaku sang front liner juga adalah perilaku yang sudah digariskan skenarionya oleh pihak manajemen hotel. Saat istirahat makan siang, front liner bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen hotel adalah bagaimana sang front liner tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya di babak selanjutnya. Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.

KRITIK TERHADAP DRAMATURGI


Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total


Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.


Menihilkan “kemasyarakatan”


Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.


Dianggap condong kepada Positifisme


Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme[4]. Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan. Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.

ANALISA DRAMATURGI


Dramaturgis masuk dalam Perspektif Obyektif


Dramaturgis dianggap masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung melihat manusia sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal ingin memasuki peran tertentu manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, berlaku natural, mengikuti alur. Misalnya, pada kasus Kekerasan pada Rumah Tangga (“KDRT”), saat perilaku kekerasan itu hendak terjadi, korban sebenarnya memiliki pilihan, berserah diri atau melakukan perlawanan. Bila ia memberontak maka konsekuensinya adalah ini dan bila ia pasrah maka akibatnya seperti itu. Proses subyektif ini akan beralih menjadi obyektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah pasrah karena ia takut kalau ia melarikan diri konsekuensinya lebih parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada tersangka dan mengkhawatirkan nasih anaknya bila ia melawan. Maka, setelah itu ia akan menjalani perannya sebagai korban. Secara naluriah ia akan menutupi bagian tubuhnya yang mungkin menjadi sasaran kekerasan. Atau ia berusaha untuk menutupi telinganya untuk melindungi mental dan psikologisnya. Itulah mengapa dramaturgi di sebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya, menjalankan perannya secara natural, alamiah mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.


Pendekatan Keilmuan Little John - Pendekatan Scientific (ilmiah - empiris)


Seperti telah dijabarkan diatas, Dramaturgis merupakan teori yang mempelajari proses dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Ini merupakan asas dasar dari penelitian-penelitian yang menggunakan pendekatan scientific[5]. Obyektifitas yang digunakan disini adalah karena institusi tempat dramaturgi berperan adalah memang institusi yang terukur dan membutuhkan peran-peran yang sesuai dengan semangat institusi tersebut. Institusi ini kemudian yang diklaim sebagai institusi total sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya. Bahwa hasil dari peranan itu sesungguhnya, bila proses (rumusnya) dijalankan sesuai dengan standar observasi dan konsistensi maka bentuk akhirnya adalah sama. Contohnya, bila seorang pengajar mempraktekkan cara mengajar sesuai dengan template perguruan tinggi maka kualitas keluaran perguruan tinggi tersebut akan menghasilkan kualitas yang bisa dikatakan relatif sama. Atau untuk contoh front liner hotel diatas, bila front liner dapat memainkan skenario penyambutan tamu manajemen hotel, niscaya tamu akan merasa dihargai, dihormati, senang dan bersedia untuk datang menginap kembali di hotel tersebut.


[1] Frase ini berasal dari bahasa Latin yang secara bahsa berarti Tuhan keluar membantu. Hal ini menunjuk pada karakter buatan, imajiner, alat ataupun peristiwa yang tiba-tiba saja terjadi atau ada dalam sebuah pertunjukan fiksi atau drama sebagai jalan keluar dari sebuah situasi atau plot yang sulit (contohnya, tiba-tiba ada ibu peri yang muncul untuk menolong Cinderella supaya bisa datang ke pesta dansa di istana).


[2] Aristoteles mengartikan kata ini sebagai “perubahan perilaku dari acuh menjadi butuh karena perkembangan cerita (mengetahui yang sesungguhnnya), tumbuhnya rasa cinta atau benci yang timbul antar karakter yang ditakdirkan oleh alur cerita”. Contohnya, pangeran dalam cerita Cinderella sebelum tidak peduli pada gadis-gadis yang memiliki sepatu kaca, tapi begitu ia mengetahui bahwa gadis misteriusnya memakai sepatu kaca, maka ia mencari gadis-gadis yang muat dengan sepatu kacanya.


[3] Kata ini mengacu kepada sensasi, atau efek turut terbawanya alur cerita ke dalam hati. Perasaan ini seyogyanya muncul di hati para penonton seusai menonton drama yang mengena. (contohnya, turut menangis,tertawa, atau perasaan iba terhadap karakter drama).


[4] Positifisme dirunut dari asalnya berasal dari pemikiran Auguste Comte pada abad ke 19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains.

[5] Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksudkan di sini adalah objektivitas yang menekankan prinsip standardisasu observasi dan kosistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur.


Genre Drama


Dua genre yang utama sejak masa Yunani adalah tragedi dan komedi. Disamping itu terdapat pula genre-genre melodrama, farce, tragikomedi, komedi gelap, sejarah, dokumenter, dan musikal yang sekarang keihatan menjadi genre utama dalam drama modern.1 Adapun pengertian dari genre-genre tersebut adalah:

a)Tragedi

Tragedi dikategorikan dalam drama serius dengan topik yang bermakna kemanusiaan universal sebagai temanya, yang mana tokoh utama atau tokoh melawan penderitaan, mundur dan selalu mati. Secara tradisional, tragedi melibatkan keruntuhan atau kehancuran tokoh yang statusnya tinggi. Tragedi menimbulkan rasa kasihan dan teror terhadap penonton, dan merespon pemecahan dalam apa yang dijelaskan Aristoteles tentang Catarsis, atau ”pembersihan jiwa”. (untuk teori tragedi, lebih lanjut lihat lampiran). Adapun contoh-contoh drama tragedi antara lain dalam drama Trilogi karya dramawan Yunani Sophocles, yakni Oidipus Sang Raja, Oidipus di Kolonus dan Antigone. Begitu pula lakon King Lear karya dramawan Inggris William Shakespeare.

b)Komedi

Komedi merupakan drama humor dengan sebuah tema penting, yang mana tokoh atau watak mempertentangkan diri mereka sendiri dan yang lain dengan akhir yang menimbulkan kelucuan. Komedi dapat menjadi kuat, bergairah, bernuansa remeh dan bergerak, tetapi organisasi pengalaman dramatiknya sama sekali menopang rasa kasihan atau teror dan mendatangkan tawa terbahak-bahak. (untuk teori komedi dan berbagai perbedaannya, lebih lanjut lihat lampiran).

Contoh drama komedi, diantaranya adalah Pinangan karya Anton Chekov.

c)Melodrama

Melodrama merupakan drama serius dengan tema yang sepele. Tokoh protagonis dalam bentuk populer yang menyenangkan dan menghibur ketimbang heroik, bajingan atau penjahat yang tidak kompromi dan sangat tidak menyenangkan. Melodrama menghadirkan pertentangan yang sederhana atau simple dan terbatas antara baik dan buruk ketimbang penggambaran maupun penjelasan yang lengkap terhadap penderitaan dan aspirasi kemanusiaan yang universal. Drama dalam genre ini jarang menopang akhir yang tidak menyenangkan, jarang berhubungan dengan katarsis, dan bertipe akhir dengan kekosongan pikiran, tetapi pertunjukannya suatu kemenangan yang menawan hati dari ”orang yang baik”.

d)Farce

Drama humor --dan ini lebih luas kehumorannya-- dalam tema yang sepele, biasanya seseorang yang sepenuhnya familiar terhadap penonton. Kekeliruan identitas, percintaan yang ditabukan atau cinta gelap, kesalahpahaman yang bertele-tele --ini merupakan cap yang berikan pada farce. Anak kembar satu telur, bercinta dalam WC atau di bawah meja, kejar mengejar di seantero panggung, tukar menukar minuman, tukar menukar pakaian (kadang-kadang laki-laki memakai pakaian wanita atau wanita berpakaian laki-laki), instruksi yang salah dengar, dan beragam adegan membuka pakaian, penemuan, bentuk yang dapat tahan lama secara kekal dan sejak zaman dulu kala.

e)Tragikomedi

Sebuah nama yang menunjukkan, bentuk yang mencoba untuk menjembatani tragedi dan komedi. Ini menegakkan tema serius secara keseluruhan tetapi bermacam-macam pendekatan dari serius hingga humor, dan dengan penyimpulan tanpa katarsis yang berat sekali yang mana penontonnya dibawa untuk menduga-duga. Ini juga dapat dikatakan “tragedi yang berakhir dengan kegembiraan”.


f)Komedi Gelap

Sama dalam tema dan pendekatan terhadap tragikomedi, tetapi dengan akibat pada bagian depan: “Komedi yang berakhir secara tragis”, yang kadang-kadang pengertian yang sangat tepat dari usaha yang sangat modern untuk menggabungkan komedi dan tragedi.

g)Historis

Lebih jauh dilatarbelakangi oleh William Shakespeare, meskipun sedikit drama yang tepat berkategori ini yang ditulis sebelumnya. Drama dalam genre ini menyuguhkan peristiwa sejarah dengan cara yang sangat serius dan terhormat. Drama sejarah Shakespeare terutama dipusatkan pada sejarah Inggris (kira-kira) tahun 1377 hingga 1547, dan secara khusus dengan kehidupan dan perjuangan raja-raja Inggris seperti Richard II, Henry IV, Henry V, Henry VI, Richard III, dan Henry VIII. Drama serius ini didasarkan pada banyak seluk beluk humor, tetapi tidak mencapai katarsis tragedi klasik atau mengesampingkan humor komedi.

(h) Dokumenter

Merupakan sebuah genre yang masih dalam pengembang-an, yang mana banyak penemuan otentik yang secara relatif digunakan sebagai dasar untuk menggambarkan peristiwa sejarah yang baru saja terjadi. Catatan pemeriksaan pengadilan, laporan berita dan gambar, rekaman orang-orang dan pegawai yang di susun sebagai dokumentasi yang membawa kehidupan suatu persoalan khusus dan sudut pandang. Pemeriksaan pengadilan yang terkenal --yakni J. Robert Oppenheimer, John C. Scopes, Adolph Eichmann, gang ”Zoot Suit”, Leopold dan Loeb, skandal Watergate maupun skandal sex Bill Clinton-Lewinsky, skandal Bank Bali, Johny Indo, Marsinah, sebagai contoh-- merupakan sumber material untuk dramatisasi dokumenter.

(i) Musikal

Genre yang dibagi oleh kepercayaan yang luas dalam musik, khususnya dalam nyanyian. Musikal biasanya digabungkan dengan genre lain untuk menciptakan komedi musikal (yakni, komedi dengan nyanyian, semacam Guys and Dolls), dokumentasi musikal (semacam Oh, What A Lovely War!, yang diinspirasikan oleh kejadian Perang Dunia I), atau sejarah musikal. Sebuah latar tragedi untuk disebut opera besar; farce musikal secara umum di sebut opera terang atau operatta.


DRAMATURGI

Ilmu yang Mempelajari Hukum-hukum Drama


Unsur Dramaturgi

Tema: Inti atau pokok dalam suatu drama atau lakon

Alur/Plot: Kerangka penceritaan yang mengubah jalannya cerita

Karakter/Penokohan: Watak suatu tokoh cerita

Latar/Setting: Tempat terjadinya peristiwa

Pada saat sekarang ini timbul keraguan, apakah dramaturgi masih penting dalam dunia seni pertunjukan, khususnya dalam memahami dunia drama. Pertanyaan ini muncul seiring dengan lahirnya kreativitas-kreativitas atau temuan-temuan baru manusia, yang menunjukkan betapa dramaturgi itu harus dipandang dengan cara yang lain. Cara lain tersebut adalah menempatkan dramaturgi itu sejalan dengan perkembangan kreativitas manusia, dan berangkat dari perkembangan yang tumbuh dalam semua kesenian, khususnya dalam seni pertunjukan. Hal ini penting artinya, karena dramaturgi sebagai sebuah disiplin ilmu harus mampu menjawab berbagai persoalan yang muncul bersamaan dengan perubahan paradigma yang terjadi, dan agar dramaturgi benar-benar menjadi disiplin yang multidisipliner.

Pada dekade sembilan puluhan, dramaturgi di Indonesia mulai mendapatkan perhatian khusus. Hal ini berangkat dari situasi perkembangan dunia pendidikan seni yang semakin meningkat. Untuk itu dibutuhkan seorang ahli dalam seni pertunjukan yang kemudian disebut “Dramaturg”, guna membandingkannya dengan ahli seni rupa yang menyeleksi karya-karya terbaik dalam seni rupa, yakni seorang “kurator”.

Dramaturg profesional pertama menurut Kenneth Macgowan dan William Melnitz adalah dramawan dan kritikus drama Jerman, Gotthold Ephraim Lessing. Lessing menulis 104 karya kritik yang dikemudian dikumpulkan dalam sebuah buku, Die Hamburgische Dramaturgie2. Peran seorang dramaturg professional ini sangat penting artinya dalam melakukan berbagai telaah serta menemukan kaidah yang dimiliki oleh sebuah karya seni pertunjukan, dan bukan semata-mata karya drama.

Selain di Indonesia, di beberapa negara Eropa dan Amerika, keberadaan dramaturgi ini juga mendapatkan perhatian khusus. Bahkan, terdapat sebuah situs internet yang memberikan informasi tentang perkembangan mutakhir dalam dramaturgi, yakni www.dramaturgy.net. Siapapun dapat mengakses situs ini untuk mendapatkan informasi, baik berupa buku, jurnal maupun dialog yang berkaitan dengan dramaturgi, termasuk pelayanan untuk mengadakan semacam pelatihan. Sumber-sumber dramaturgi yang tersebar luas itu, di Indonesia masih sangat terbatas penggunaannya. Sumber dalam bentuk buku berbahasa Indonesia dan ditulis pula oleh orang Indonesia, hanya dijumpai pada buku RMA Harymawan yang berjudul Dramaturgi. Beberapa buku yang lain tidak lebih dari sepuluh judul buku yang berbicara tentang dunia drama dan berbagai upaya mempersiapkan pertunjukan teater. Kesemuanya itu perlu direvisi kembali, karena beberapa bagian diantaranya sudah tidak berlaku lagi, atau telah mengalami pergeseran pemahaman yang signifikan.

Ketertarikan terhadap dramaturgi juga terjadi pada dunia ilmu sosial. Seorang sosiolog Amerika, Erving Goffman misalnya, melahirkan pendekatan dramaturgis untuk melakukan penelitian sosial. Pengaruhnya sangat besar, termasuk dalam penelitian dengan pendekatan interaksionis simbolik.3 Disiplin ilmu yang mulai memanfaatkan jasa dramaturgi adalah ilmu komunikasi, psikologi, maupun seni pertunjukan. Sedangkan, dalam politik pun sering kita temui istilah dramatisasi persoalan, dramatisasi konflik, dramatisasi politik, dan sebagainya. Para pengguna dramaturgi pun tidak surut dan habis begitu saja seiring dengan berkembangnya perfilman dan sinetron-sinteron yang memborbardir dunia rumah tangga kita.

Dramaturgi itu sendiri, sebagaimana ditulis oleh RMA Harymawan dalam bukunya Dramaturgi4 adalah ilmu yang mempelajari tentang hukum dan konvensi drama. Hukum-hukum drama tersebut mencakup Tema, Alur (plot), Karakter (penokohan), dan Latar (setting). Namun demikian, pemahaman dramaturgi itu tidak berhenti pada hukum-hukum dan konvensi yang telah menjadi klasik tersebut. Karena, perkembangan yang cukup besar dari dunia drama itu sendiri, maka tentu sejumlah hukum dan konvensi itu memiliki upaya pula untuk melakukan beberapa ”penyesuaian” yang selaras dengan kehidupan dan jalan pemikiran manusia. Meskipun perkembangan tersebut memiliki beberapa kritik, namun tetap memiliki kemungkinan dalam mengapresiasi kenyataan yang berubah di tengah-tengah masyarakat penggunanya. Kenyataan bahwa dunia drama itu telah berkembang berabad-abad tentulah tak dapat dipungkiri memiliki banyak “produk” yang dapat menjadi model atau bahan untuk dianalisa. Disamping itu, telah banyak pula lahir para dramawan maupun para penulis drama yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan zamannya. Di Indonesia kita mengenal Putu Wijaya, Arifin C. Noor, Iwan Simatupang, Wisran Hadi, Kirjomulyo, Akhudiat, dan masih banyak lagi.

Konsepsi Dramaturgi klasik Aristotelian yang diikuti kalangan neo-klasisisme, yakni kesatuan dramatik yang merupakan suatu cerita yang terjadi di satu tempat dan waktu yang tak lebih dari satu kali dua puluh empat jam, peristiwa-peristiwa dan adegan-adegan secara beruntun, diikat dengan ketat satu sama lain oleh hukum sebab akibat. Kalangan penganut Sturm und Drang atau Storm and Stress (secara harfiah berarti Topan dan Tekanan) melakukan perubahan mendasar. Pemberontakan ini berangkat dari Gefuh ist alles, yakni perasaan adalah segala-galanya, seperti diungkapkan oleh Wolfgang von Goethe pada masa mudanya. Dramawan-dramawan Sturm und Drang cenderung menggambarkan manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya ditentukan oleh semangat yang berkobar-kobar, emosi yang kuat, nafsu yang meluap dan menghanyutkan5 . Maka mudah ditemukan adegan-adegan yang luar biasa, resah, penuh kekerasan, hujatan pedang dan belati, darah dan racun. Itu pulalah sebabnya, gerakan ini kemudian melahirkan gagasan romantik dalam drama dan teater. Plot atau alur cerita bersifat episodik.


Ringkasan

1.Pengertian drama muncul sebagai bagian dari upaya untuk memahami kehidupan. Namun demikian, banyak pengertian-pengertian drama yang saling bertolakbelakang, sehingga terjadi kesimpangsiuran. Upaya yang cermat melalui pengklasifikasian terhadap karya drama tersebut, memungkinkan suatu pengertian yang komprehensif dapat ditemukan.

2.Drama dimengerti mulai dari konteks sebagai salah satu genre sastra hingga ke pertunjukan teater. Sebagai sebuah karya sastra, drama berkaitan erat dengan adanya media lain, seperti teater, radio maupun televisi dan film.

3.Dalam mengembangkan dramaturgi tersebut dibutuhkan pula para dramaturg professional untuk menelaah kaidah-kaidah seni pertunjukan.

4.Dalam play atau drama terdapat genre seperti tragedi, komedi, melodrama, farce, targikomedi, sejarah, dokumenter, dan musikal. Masing-masing genre memiliki kekhususan dalam bentuk dramatiknya.

5.Pemahaman dramaturgi sangat dibutuhkan oleh sutradara dan aktor dalam memasuki wilayah penonton.


Topik Diskusi

1.Sebutkanlah pengertian drama yang relatif lebih realistik pada masa sekarang ini.

2.Sebutkan perbedaan mendasar konsepsi Dramaturgi Aristotelian dan pemberontakan Dramaturgi Wolfgang von Goethe.

3.Sebutkanlah bagaimana cara kerja seorang dramaturg profesional, agar sebuah karya seni pertunjukan dapat mencapai sasarannya secara maksimal.

4.Apakah yang membedakan antara genre drama Tragedi dengan Melodrama, dan Komedi dengan farce, sebutkan contoh dari naskah drama yang mengindikasikan genre ini.

5.Bagaimanakah dramaturgi seharusnya dipahami dan dipergunakan.



Dialog!

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)

DIALOG

GS1A, 15 Desember 2008


Menonton percakapan dalam adegan pembuka film Thelma and Louis

1. Tokoh meminta gula para rekannya

2. Tokoh dipanggil pelanggan

3. Tokoh mengantarkan pesanan

4. Tokoh mengantarkan pesanan dan mengomentari habit pelanggan lainnya


Dalam budaya yunani kuno (Aristoteles)

Dramaturgi dibangun berdasarkan plot (aksi) yang didalamnya terdapat aksi dengan meniru aksi dari kehidupan nyata. Yang penting showing, baru kemudian telling. Dalam film, dianggap penting tapi tanpa dialog storytelling bisa jalan. Hal ini terjadi pada film bisu.


Film yang menaruh dialog pada posisi yang tidak terlalu penting:

Juha (Aki Karusmaki)

Humanity (Bruno Dunont)


Film dimana terdapat kontrakdiktif antara dialog dan cara mengucapkan dialog

Usual Suspect


Sehingga ketika membuat dialog, harus jelas dulu tujuan scenenya.



Karakteristik Speech

- Monolog : fungsi story telling mengkarakterisasi karakter

- Narasi : fungsi story telling berhubungan dengan POV

- monolog interior : fungsi storytelling mengkarakterisasi karakter

- off screen sound (monolog interior dan narasi)

- DIALOG: Pembicaraan antar karakter (kadang tidak punya tujuan storytelling, cuma sekedar chitchat)


Fungsi Dialog

- karakterisasi siapa yang berbicara

- ilustrasi hubungan antara siapa yang berbicara dengan karakter lainnya (termasuk pilihan kata ketika berinteraksi dengan orang lain).

- informasi tentang hasrat, pikiran, dll

- memperkaya aksi


Teknik dialog

- jelas point dari dialog yang disampaikan

- nyaan untuk aktor

- terkesan hidup (realis)


Dialog dan gambar :

- film bisu

- gambar dan dialog dalam film bersuara. Ketika dunia tanpa dialog sehingga terlihat seperti dunia yang absurd. Biasanya film-film atau genre-genre yang tidak lazim.



Prinsip-prinsip dialog

- dialog sebagai pembicaraan (terdapat dua karakter atau lebih)

- dialek, aksen, intonasi, diksi (sangat fonetik yang mengarahkan pitch, loudness, timbre). Tidak hanya apa yang dikatakan tetapi bagaimana cara mengatakannya.

- bahasa tubuh dan karakter (karena dialog menempel padanya)


Posted by Skrip at 16:53:01 | Permanent Link | Comments (0) |

Wednesday | December 10, 2008

Point of View (POV)

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)

Point of View

GS2A, 10 Desember 2008


Definisi

A. Secara umum: perspektif, cara pandang, world view, idiologi

B. Kamera : kamera mewakili siapa? Siapa yang melihat? Dari karakter siapa cerita dilihat melalui kamera? Karakter tertentu atau narator? Karakter POV biasa disebut subyektif POV, filmmaker (narator) POV biasa disebut obyektif filmmaker

C. Secara Naratif : darimana cerita berasal? Siapa yang bercerita? Hal ini berlaku pada shot, scene, sequence, atau film.


Dalam film, ada 5 jalur informasi:

A. Gambar

B. (Written) Teks

C. Speech, Monolog, dialog

D. Musik

E. Noise/Efek

Atau bisa juga disebut audio-visual


Jenis POV

1. POV umum

a. First Person POV, menggunakan kata ganti “Saya”. Semua diri orang pasti punya sudut pandang terhadap kejadian

Karakteristik:

(+) subyektif, penulis berkuasan penuh atau mempunyai kebebasan menuturkan cerita seberapa luas dan dalam informasi mengenai karakter disampaikan ke penonton.

(-) karakter tidak boleh terlihat mukanya. Cara memperlihatkan wajah dengan menggunakan cermin atau air.

Contoh film yang konsisten menerapkan first person POV adalah “Lady in the Lake”. Sepanjang film tidak diperlihatkan wajah karakter kecuali ketika dia bercermin.

Macam-macam first person POV:

First person POV singular (hanya ada satu karakter)

First person POV multiple (ada beberapa karakter yang jadi first person POV)

First person reability: bagaimana penulis membuat bingung penonton dengan memberikan kondisi ketidakkonsistenan atau kegilaan, atau antara karakterisasi dan dialog bertolak belakang


b. Third Person POV, menggunakan kata ganti “dia”. Kita mengamati peristiwa sebagai observer. Karakter terlihat secara utuh.


Macam-macam Third person POV:

- singular

- multiple

- limited third person POV

- unlimited/ omniscient third person POV, narator


2. POV yang tidak umum: untuk membuat ambiguitas dengan bagaimana cerita dituturkan/dilihat.

a. Second person POV, menggunakan kata ganti “you”. Peleburan antara first person dan third person. Karakter melakukan interaksi dengan penonton.

b. Stream of Consciousness, berhubungan alam bawah sadar, yaitu pikiran dan memori karakter. Kesannya POV orang ketiga tapi bisa juga seperti POV karakter utama.

c. Shifting POVs, POV berubah di tengah jalan.

d. Virtual POV, POV memang dibuat kabur menganai POV siapa, lebih tricky.


POV dan skenario.

1. First person POV

Deskripsi skenario yang dengan menggunakan mata kamera sebagai mata karakter.


2. Third person POV

Deskripsi skenario yang umumnya ada.


3. Second person POV

Di POV tidak umumkan dimungkinkan adanya penjelasan teknis. Seperti:

Ale membuka pintu.


ALE

(direct adress)

Selamat pagi!



Tugas keempat tentang POV

1. POV siapa dan apa saja yang ada di skenario 20 halaman yang mau dibuat (tugas ini tidak lebih dari satu halaman).



Posted by Skrip at 12:10:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Wednesday | December 03, 2008

Agenda Kuliah Skenario lanjutan 2

Agenda Perkuliahan Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)


10 Desember jam 10 pagi: kuliah membahas tentang P.O.V.

15 Desember : kuliah membahas tentang Dialog (semua tugas mesti sudah dikumpulkan)

22 dan 29 Desember : libur natal

5 januari : Kuliah membahas tentang Opening dan Ending + 4 Tugas mingguan (setting, karakter, Plot, POV)

12 januari: libur untuk menyiapkan skenario bahan UAS

jumat, 23 januari pukul 17.00 di ruang Ale: menyerahkan skenario 20-30 halaman (diprint).

26 januari: UAS Skenario Lanjutan 2 (lisan dan tulis, dengan materi tugas skenario)



Tugas 3:

Menentukan Plot dan Key events beradasarkan skenario yang akan mahasiswa buat untuk tugas akhir semester

1. Jenis Plot

2. Jenis Konflik

3. Key Events



Bentuk Skenario tugas akhir Semester


1. INT/EXT- RUANG- WAKTU (Heading Scene)


- Setting

- Karakter

- Aksi


Kalo ada istilah yang sulit di indonesiakan secara umum, gunakan cetak miring dan kasi bintang + foodnote


Menggunakan Struktur Hollywood Klasik

1. Protagonis mempunyai goal, need, desire

2. Obyektif

3. Kausalitas

4. Closure


Mahasiswa yang belum mengumpulkan tugasnya:

Akbar: setting, POV

Datu: plot, karakter, POV

Gatot : setting, POV

Gusad: plot, POV

Gunawan : setting, plot, POV

Aletra: karakter, POV

Nindi : plot, POV

Robby, plot, POV

Yoram: setting, karakter, plot, POV

Moses : setting, karakter, plot, POV,

Usha: POV

Vella: Plot, POV

Rendi : Plot, POV


Posted by Skrip at 16:01:42 | Permanent Link | Comments (0) |

Plot dan Struktur

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)

Plot dan Struktur

GS1A, 1 Desember 2008


4 karya Dramatik (Unsur Fundamental):


1. konflik dan emosi

Konflik menjadi penting dalam dramaturgi karena dalam dramaturgi diperlukan konflik yang menari sebagai bentuk imitasi dari kehidupan manusia. Karena di dalam konflik terdapat gerak (dinamika). Ketika cerita “bergerak”, penonton akan tertarik karena di dalamnya terdapat EMOSI, ada kehidupan.


2. PROTAGONIS yang memiliki OBYEKTIF.

Obyektif yang dimaksud adalah tujuan atau pandangan hidup. Karena dia memiliki tujuan yang ingin di capai, maka diperlukan cara-cara untuk mencapai tujuan itu. Tokoh tidak mempunyai obyektif disebut sebagai tokoh statis. Tetapi status yang dimaksud berbeda dengan tokoh yang bersikap/memiliki pandangan hidup statis. Statis yang dimaksud terakhir adalah karakter yang sebenarnya memiliki target (obyektif) tetapi memilih bersikap statis. Biasanya terjadi pada karakter yang introfer. Obyektif ini bisa berupa eksplisit atau implisit. Bagaimana karakter bersikap dalam menghadapi masalah bisa mengarahkan penonton pada Obyektif.


3. hambatan


4. karakterisasi



Struktur


- kaidah 3 babak

- - plot point (krisis, klimaks)



Dramatik = protagonis + obyektif + hambatan + konflik + emosi



Kenapa three act struture menjadi struktur dominan? Karena paling mendekati kehidupan!

BABAK 1: (Sebelum {Obyektif) diperkenalkan}

BABAK 2 : (Usaha {obyektif) dijalankan}

BABAK 3 : (Sesudah {Obyektif) diselesaikan}


Dibabak 1, obyektif diketahui penonton (eksposisi) melalui setting, protagonis, obyektif, hambatan. Krisis adalah hilangnya kondisi keseimbangan (equilibrium). Orang sering menyebutnya sebagai transisi antara Act 1 ke Act 2. Dibabak 3, karena setelah obyektif diselesaikan tidak ada lagi masalah sehingga tidak ada point dramatik.


Plot Point: informasi/ perisitiwa yang membuat cerita bergerak dalam proses progonis mencapai obyektifnya. Di dalamnya terdapat krisis dan klimaks. KLIMAKS adalah usaha terakhir dari protagonis dalam mencapai obyektif. Karena klimaks usaha terakhir protagonis, sehingga mesti ada proses puncak berupa KEMATIAN protagonis.


bener dalam struk dramatik ada opening, midle, ending tapi kan nggak mesti ditampilkan berurutan” Orson Welles




Posted by Skrip at 15:51:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Konflik dan Plot


Konflik dan Plot

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)

GS1A, 24 November 2008



Kenapa hidup menarik?

Kenapa dramaturgi menarik?

Dramaturgi: imitasi realita/hidup

Asumsinya semua orang pasti punya tujuan yang ingin dicapai

Ketika orang yang punya tujuan, maka peluang terjadinya punya konflik pun muncul. Konfliklah kemudian yang membuat hidup/drama yang menjadi menarik. Konflik tidak hanya diterapkan dalam cerita tetapi juga elemen-elemen style seperti warna, komposisi, cahaya, gerak obyek, dan editing.

Oleh karena itu, konflik menjadi hal yang mutlak dalam dramaturgi

Mesti bisa punya alasan mengapa cerita menarik bagi penonton?


Dramatis : tendensinya tragis (sesuatu yang “memainkan” emosi)


Elemen dasar drama: KONFLIK


Arti kata konflik: durasi atau emosi yang memiliki petensi konflik


Manifestasi konflik

A. Fisik

B. Psikologis

C. Subtil/ konflik

D. Eksplisit


Konflik statis dan dinamis

Konflik statis pada saat karakter pasif (tidak ada usaha menghilangkan hambatan). Dia menjadi dinamis ketika karakter aktif.


Konflik dan dramatik:

- konflik sebagai jiwa dari kehidupan


- konflik sebagai faktor yang menarik penonton

ketika telah menentukan konfliknya (key event), maka bikin se-spektakuler mungkin. Spektakuler artinya terdapat penekanan terhadap konflik. Yang membuat penonton selalu ingat terhadap kejadian tersebut. Yang itu ditunjukkan dalam aksi.


Contoh film Assasination of Jesse James: gerakan jesse james yang penuh curiga terhadap orang yang akan membunuhnya menjadi satu konflik yang menarik.


- konflik sebagai faktor identifikasi

konflik menyebabkan proses identifikasi antara penonton dengan karakter di film. Yang penting kasi penonton TUJUAN yang menarik


- konflik sebagai alat untuk karakterisasi

wujudnya

a. situasi konflik

b. mengatasi hambatan

c. mencapai tujuan



Prinsip dasar drama, drama terjadi karena adanya

A. Protagonis/ karakter (tokoh yang memiliki tujuan)

B. tujuan/ objective

C. hambatan

D. Konflik

E. Emosi



Esensi konflik: apa yang bikin cerita menarik!


Konflik tidak ada hubungan dengan struktur (bukan berarti Struktur Hollywood Klasik menarik tetapi Art Sinema Narration otomatis membosankan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar